AUTEKOLOGI PURNAJIWA (Euchresta horsfieldii (Lesch.) Benn. (FABACEAE) DI SEBAGIAN KAWASAN HUTAN BUKIT TAPAK CAGAR ALAM BATUKAHU BALI

Pembagian ekologi menurut bidang kajiannya :

  1. Autekologi, adalah ekologi yang mempelajari suatu jenis (spesies) organisme yang berinteraksi dengan lingkungannya, biasanya tekanannya pada aspek siklus hidup, adaptasi, sifat parasitis, dll.
  2. Sinekologi, Ekologi yang mengkaji berbagai kelompok organisme sebagai suatu kesatuan yang saling berinteraksi dalam suatu daerah tertentu, ekologi jenis, ekeologi populasi.

www.uajy.ac.id/jurnal/biota/abstrak/2002-1-6.doc

AUTEKOLOGI PURNAJIWA (Euchresta horsfieldii (Lesch.) Benn. (FABACEAE) DI SEBAGIAN

KAWASAN HUTAN BUKIT TAPAK CAGAR ALAM BATUKAHU BALI

Oleh: SUTOMO, LAILY MUKAROMAH

INTISARI

Purnajiwa adalah salah satu tumbuhan obat yang hidup di hutan dataran tinggi Bali. Tumbuhan ini dipercaya oleh masyarakat Bali memiliki khasiat sebagai aprodisiak. Kini keberadaannya di alam semakin terancam karena over-eksploitasi dan kerusakan habitatnya di alam. Cagar Alam Batukahu adalah salah satu habitat Purnajiwa yang masih tersisa. Studi pendahuluan ini bertujuan untuk mendeskripsikan ekologi Purnajiwa di habitat alaminya. Purnajiwa ditemukan pada tempat yang ternaungi diantaranya adalah di bawah pohon Laportea sp., Ficus sp., Syzygium zollingerianum, dan Sauraria sp. dengan intensitas penyinaran antara 55-65%. Tumbuh pada kemiringan tanah antara 20-55 % serta ketebalan seresah 3-7 cm dengan pH tanah berkisar antara 6,7-6,8. Sebanyak 16 jenis tumbuhan bawah hidup bersama purnajiwa diantaranya yang cukup dominan adalah Diplazium proliferum (INP = 54,6) dan Oplismenus compositus L. (INP = 40). Hasil dari studi ini diharapkan dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi kepentingan aklimatisasi konservasi ex-situ dan penelitian budidaya Purnajiwa demi mencegah jenis ini dari kepunahan.

Kata kunci: Autekologi, Bukit Tapak, Cagar Alam Batukahu, Purnajiwa

Naskah ini diterima tanggal 8 Mei disetujui tanggal 21 Juni 2010

JURNAL BIOLOGI XIV (1) : 24 – 28 ISSN : 1410 5292

PENDAHULUAN

Hutan pegunungan menjadi salah satu tempat “sanctuary” terakhir dari keanekaragaman hayati yang tersisa di Pulau Bali seperti halnya di Pulau Jawa (Whitten et al., 1996). Purnajiwa (Euchresta horsfieldii (Lesch.) Benn) adalah salah satu jenis tumbuhan obat yang hidup di daerah pegunungan dan cukup dikenal oleh masyarakat Bali. Tumbuhan ini juga termasuk dalam kategori dua ratus tumbuhan langka Indonesia (Mogea et al., 2001). Euchresta horsfieldii (Lesch.) Benn. di Bali dikenal dengan nama purnajiwa, di Jawa dikenal sebagai pronojiwo, sedangkan nama umum di Indonesia adalah pranajiwa. Purnajiwa adalah tumbuhan yang cukup populer di Bali. Para balian usada (dukun pengobat tradisional Bali) percaya buah purnajiwa dapat digunakan sebagai obat kuat penambah gairah (aprodisiak) sehingga banyak dijadikan target eksplorasi masyarakat sekitar hutan secara sporadis. Purnajiwa juga bertindak sebagai antidote, expectorant dan tonic yang dapat menetralisir racun ular dan obat TBC. Akar dan batang purnajiwa mengandung flavonoid, isoflavones, pterocarpans, caumaronochromones dan flavonones sedangkan bijinya mengandung alkaloid berupa cytosine (1,5%), matrine dan matrine-n-oxide (Lemmens dan Bunyapraphatsara, 2003).

Secara sistematis purnajiwa dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Lemmens dan Bunyapraphatsara, 2003):

Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonae

Bangsa : Resales

Suku : Fabaceae

Marga : Euchresta

Jenis : Euchresta horsfieldii (Lesch.) Benn.

Morfologi purnajiwa dapat dideskripsikan sebagai berikut : Perdu atau semak, tegak, tinggi mencapai 2 m. Batang percabangan agak jarang. Daun majemuk, tersusun spiral, berjumlah 3-5 helai, bentuk melonjong atau membulat telur, agak berdaging. Perbungaan bentuk tandan, tegak, berbulu halus, panjang 4-12 cm. Bunga kecil, berwarna putih kekuningan, berbentuk seperti kupu-kupu (Gambar 1). Buah kecil, mengkilap, berbentuk lonjong, panjang 1-2 cm, ketika belum masak berwarna hijau dan saat masak berwarna hitam kebiruan, tiap buah berisi mengandung satu biji. Biji berbentuk lonjong (Lemmens dan Bunyapraphatsara, 2003). Biasanya buah mulai masak sekitar Bulan Agustus-September (Siregar dan Peneng, 2004). Umumnya purnajiwa tumbuh mengelompok di hutan sekunder dan lereng gunung dengan ketinggian antara 1.000-2.000 m dpl. Purnajiwa dapat pula dijumpai di kawasan lainnya di Asia, seperti di India, Filipina, dan di Indonesia tersebar di Sumatera, Jawa dan Bali (Lemmens dan Bunyapraphatsara, 2003). Purnajiwa dapat diperbanyak dengan biji namun cara ini memiliki kendala yaitu Meskipun berbunga banyak akan tetapi biji yang dihasilkan hanya sedikit. Biji-biji tersebut juga termasuk sulit dikecambahkan (Siregar dan Peneng, 2004). Perbanyakan dengan stek pun seringkali mengalami kegagalan karena stek batang dari tanaman yang termasuk famili Fabaceae seperti purnajiwa ini merupakan tanaman yang sulit membentuk perakaran (Siregar dan Peneng, 2004).

Pengambilan jenis ini di alam yang berlebihan tanpa diimbangi upaya konservasi dan budidaya yang memadai mulai mengancam keberadaan populasinya di alam. Melestarikan suatu jenis tumbuhan yang terancam punah adalah salah satu tujuan dari konservasi. Untuk melindungi spesies yang rentan terhadap kepunahan, diperlukan pemahaman mengenai aspek ekologis spesies tersebut. Akan tetapi informasi mengenai ekologi untuk spesies yang terancam punah masih sangat sedikit (Hobbs dan Atkins, 1990; Lesica, 1992; Zobel, 1992). Upaya konservasi tumbuhan seharusnya dimulai dengan penelitian lapangan mengenai autekologi jenis tersebut sebelum beranjak pada kegiatan budidaya. Dengan mengingat tiap spesies memiliki apa yang disebut ‘ecologic individuality’ atau kebutuhan relung hidup yang spesifik dapat diduga bahwa tiap detil perubahan dalam komposisi spesies atau vegetasi dari suatu tempat ke tempat lainnya kemungkinan menunjukkan adanya beberapa perbedaan faktor-faktor lingkungan. Dengan demikian autekologi dengan analisis kuantitatif dapat mengungkap adanya hubungan atau korelasi antara faktor ligkungan dengan komposisi vegatasi dan keberadaan suatu spesies tertentu di suatu habitat (Daubenmire, 1968; Loewen et al., 2001). Penelitian autekologi tumbuhan purnajiwa dengan demikian penting dilakukan untuk mengungkap preferensi jenis ini di habitat dalam mendukung upaya konservasinya.

PEMBAHASAN

Purnajiwa ditemukan pada tempat yang ternaungi diantaranya adalah di bawah pohon Laportea sp., Ficus sp., Syzygium zollingerianum, dan Sauraria sp. Dengan intensitas penyinaran antara 35-65%. Tumbuh pada kemiringan lahan antara 20-55 %. Distribusi individu di dalam suatu populasi tumbuhan jarang ditemukan dengan pola yang acak di dalam suatu lanskap, seperti terlihat di pola penyebaran pohon-pohon dan semak tropis umumnya ditemukan dalam pola mengelompok (clumped) daripada acak (Call dan Nilsen, 2003; Hubbel, 1979; Roxburgh dan Chesson, 1998). Demikian pula yang ditemui di lokasi penelitian, dimana individu purnajiwa ditemukan hidup mengelompok membentuk suatu populasi di bawah naungan jenis-jenis pohon seperti telah disebutkan sebelumnya di atas. Dapat dilihat bahwa purnajiwa ditemukan pada tempat-tempat dengan nilai kelerengan yang besar atau cukup curam di dalam hutan populasi purnajiwa lebih banyak terdapat pada lantai hutan dengan intensitas penyinaran yang moderat yaitu sekitar 50%. Selain faktor abiotik yaitu faktor lingkungan, factor biotik yaitu tumbuhan lain yang hidup bersama suatu jenis merupakan parameter penting di dalam autekologi tumbuhan (Le Brocque, 1995; Swamy et al., 2000). Dengan demikian selain dengan memperhatikan factor lingkungannya, karakteristik habitat E. horsfieldii dapat diketahui dengan memperhatikan tumbuhan yang ada di sekitarnya (Tabel 3). Tabel tersebut memperlihatkan bahwa Diplazium proliferum (INP = 54,6) dan Oplismenus compositus L. (INP = 40) adalah jenis tumbuhan bawah

yang cukup dominan di lokasi penelitian sedangkan Begonia cf. longifolia (INP = 5,58) merupakan jenis dengan nilai penting yang terendah. Selain di Bukit Tapak, jenis O. compositus juga merupakan tumbuhan bawah yang mendominasi komunitas tumbuhan bawah di jalur perjalanan hutan tropis di Kebun Raya Bali (Sutomo dan Undaharta 2005). Melestarikan organisme di habitat alaminya adalah best practice jika memungkinkan akan tetapi situasi terus berubah dengan semakin nyatanya perubahan iklim serta meningkatnya aktivitas manusia di kawasan hutan untuk mencari berbagai hasil hutan seperti untuk kayu bakar, humus, tumbuhan anggrek, paku dan juga termasuk purnajiwa untuk tujuan komersil sehingga mengancam keberadaan jenis ini di alam. Dalam kasus seperti ini, konservasi secara ex situ harus mulai diterapkan, sehingga jumlah maksimal variasi genetik pada jenis yang masih ada bisa diselamatkan dan memberikan kesempatan untuk bertahan hidup (Anonim, 1989). Salah satu upayanya dengan mengambil material tumbuhan purnajiwa baik berupa biji, anakan purnajiwa dengan teknik putaran maupun stek batangnya untuk kemudian di lakukan aklimatisasi serta penelitian perbanyakannya di kebun raya yang akan bermuara pada kegiatan reintroduksi purnajiwa di habitat alaminya. Kegiatan aklimatisasi purnajiwa di kebun raya akan dapat memanfaatkan data autekologi ini dengan membuat iklim mikro dan artificial environment yang sedapat mungkin menyerupai kondisi di habitat alaminya.

SIMPULAN

Purnajiwa ditemukan pada tempat yang ternaungi diantaranya adalah di bawah pohon Laportea sp., Ficus sp., Syzygium zollingerianum, dan Sauraria sp. Dengan intensitas penyinaran antara 55-65%. Tumbuh pada kemiringan tanah antara 20-55 % serta ketebalan seresah 3-7 cm dengan pH tanah berkisar antara 6,7- 6,8. Sebanyak 16 jenis tumbuhan bawah hidup bersama purnajiwa diantaranya yang cukup dominan adalah Diplazium proliferum (INP = 54,6) dan Oplismenus compositus L. (INP = 40). Populasi purnajiwa di sebagian kawasan hutan Bukit Tapak secara umum masih cukup baik, namun intensitas masyarakat memasuki kawasan hutan ini harus menjadi perhatian apabila menghendaki kelestarian biodiversitas tumbuhan pegunungan, termasuk jenis purnajiwa ini. Kegiatan konservasi exsitu disarankan menjadi salah satu alternatif solusi untuk menyelamatkan populasi purnajiwa.

REVIEW

Saya mengkategorikan Jurnal yang berjudul “AUTEKOLOGI PURNAJIWA (Euchresta horsfieldii (Lesch.) Benn. (FABACEAE) Di Sebagian Kawasan Hutan Bukit Tapak Cagar Alam Batukahu Bali” ini termasuk dalam kajian bidang AUTEKOLOGI. Dilihat dari pengertian Autekologi adalah ekologi yang mempelajari suatu jenis (spesies) organisme yang berinteraksi dengan lingkungannya, biasanya tekanannya pada aspek siklus hidup, adaptasi, sifat parasitis, dll. Dari segi Autekologi, dalam karya tulis ini dapat dipelajari bahwa tanaman Purnajiwa ini adalah suatu jenis spesies tanaman yang hidup di hutan dataran tinggi. Purnajiwa ditemukan pada tempat yang ternaungi diantaranya adalah di bawah pohon Laportea sp., Ficus sp., Syzygium zollingerianum, dan Sauraria sp, dengan intensitas penyinaran antara 55-65%. Tumbuh pada kemiringan tanah antara 20-55 % serta ketebalan seresah 3-7 cm dengan pH tanah berkisar antara 6,7-6,8.

http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/artikel%20sutomo.pdf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: