PSIKOLOGI HEWAN

  1. Pengertian dan Sejarah Psikologi

Kata Psikologi berasal dari bahasa Inggris Psychology, yang berakar dari paduan bahasa Yunani “Psyche” (= jiwa, meniup) dan “logos” (=nalar, ilmu). Dalam mitologi Yunani Kuno, Psyche adalah seorang gadis cantik bersayap seperti kupu-kupu. Jiwa dilambangkan dengan gadis jelita, sedangkan kupu-kupu melambangkan keabadian. Apabila diartikan secara harfiah dari etimologi ini maka Psikologi berarti Ilmu Jiwa.

Psikologi berasal dari dua kata (bahasa Yunani): psyche yang berarti jiwa (soul)dan logos yang berarti ilmu.Akar dari psikologi adalahfilsafat dan fisiologi.Filsafat (philosophy)berasal dari kata philos yang berarti cinta (love) dan Sophia yang berarti kebijakanaan (wisdom). Jadi filsafat adalah ilmu yang mencintai kebijaksanaan. Sedangkan physiology adlah cabang dari biologi yang berkaitan dengan kajian ilmih tntang bagaimana fungsi-fungsi mahkluk hidup.

2. Objek

Salah satu syarat mutlak untuk dapat dikategorikan sebagai ilmu, maka psikologi harus jelas objek kajiannya. Perkembangan terkini disiplin ilmu psikologi tidak hanya membatasi pada manusia, tetapi juga “jiwa” hewan. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa objek material (apa yang dikaji) psikologi adalah organisme (manusia dan hewan). Sedangkan objek formalnya (cara meninjau) adalah gejala kejiwaan atau perilaku organisme.

Tuhan menciptakan berbagai makhluk hidup di alam raya ini, salah satunya adalah hewan. Hewan adalah salah satu makhluk hidup yang sangat dekat dengan kehidupan kita (manusia). Kita manusia, makhluk paling sempurna yang pernah diciptakan Tuhan tentu tahu bahwa Hewan tidak mempunyai akal. Tapi dari ketidak sempurnaan itu, justru malah memberi kita hikmah tentang kehidupan yang kita jalani ini.

Dari hewan kita dapat belajar banyak hal dan betapa pentingnya hewan bagi kehidupan manusia. Pada awal masa kehidupan, hewan hidup secara liar di habitatnya masing-masing. Terpisah dengan manusia. Sejarah mengajarkan bahwa hewan telah diburu oleh manusia untuk dimakan sejak dahulu kala. Saat zaman berburu dan mengumpulkan makanan berubah menjadi zaman bertani dan bercocok tanam, manusia mengubah gaya hidup menjadi agraris dan mulai melakukan domestikasi terhadap hewan agar mereka dapat tinggal bersama-sama dengan manusia. Manusia melihat hewan-hewan liar ini dapat dimanfaatkan untuk membantu kehidupan mereka.

Hewan juga dapat digunakan sebagai objek percobaan di laboratorium. Beberapa hewan seperti tikus dan mencit banyak digunakan  untuk penelitian dan perkembangan sains sebagai hewan laboratorium. Salah satu contoh penggunaan mereka dalam sains terapan adalah di bidang biomedis. Penelitian mengenai kesehatan, penyakit, dan obat-obatan terlebih dahulu diujikan kepada hewan laboratorium sebelum diaplikasikan untuk kesehatan manusia.

Dalam tulisan ini kita akan belajar bagaimana menjalin persahabatan yang baik. Persahabatan tidak hanya terjalin antara manusia saja atau antara manusia dan hewan, tetapi persahabatan juga terjalin antara hewan.

PERSAHABATAN KUDA NIL DAN KURA-KURA

Kisahnya bermula dari ketika terjadi tragedy tsunami yang melanda Asia dan Afrika. Salah seorang relawan menemukan seekor bayi kuda nil yang berumur satu tahundengan kondisi yang memperihatinkan. Setelah dirawat, kuda nil itu pun akhirnya dibawa ke Haller Park dekat Mombasa, sebuah taman suaka margasatwa milik Lafarge Eco System’s East African Firm, pada 27 Desember 2006. Bayi kuda nil itu kemudian diberinama Owen, sesuai nama penyelamatnya (relawan).

Di suaka margasatwa Haller Park inilah kisah persahabatan unik itu dimulai.

Petugas suaka menempatkan bayi kuda nil tersebut di sebuah area unuk hewan-hewan kecil. Langkah ini dilakukan karena Owen masih tergolong bayi. Sementara jika ditempatkan di lokasi untuk kawasan kuda nil, petugas perwat khawatir Owen akan diserang kawanan kuda nil lain yang tak mengenalnya. Karena kuda nil sanagt agresif dan “fanatik” pada kawanannya, bila ada kuda nil asing mereka bisa saja membunuhnya.

Ketika Owen dilepas, ia masih bingung. Mungkin karena harus menempati lingkungan baru dan beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Namun setelah ia merasa sedikit nyaman, Owen langsung menatap dan tertarik pada seekor kura-kura bernama Mzee.

Mzee, adalah spesies kura-kura Aldabran usia 130 tahun seberat 700 pound (320 kg). Mzee yang dalam bahasa Swahili (Afrika) berarti “wise old man” (si tua bijaksana), merupakan penghuni lama area yang dilengkapi dengan kolam asri dan hutan buatan.

Awalnya, Owen langsung beranjak mendekati Mzee. Namun Mzee sama sekali tidak memperdulikan Owen. Hari demi hari Owen selalu mengikuti Mzee ke manapun ia pergi. Sepertinya Owen berupanya mengambil hati Mzee. Seiring berjalan waktu dan kegigihan Owen mendekatinya, Mzee akhirnya menerima kehadiran kuda nil muda itu.

Berminggu-minggu kemudian keduanya sudah tampak begitu akrab. Mzee layaknya dianggap sebagai induk oleh Owen, sementara mzee selalu menjaga Owen dengan kelembutan. Owen juga selalu mematuhi dan senang bermain dengan Mzee.

Ikatan persahabatan mereka mengental bagai sebuah keluarga. Para perwat hewan di Haller Park bingung dengan tingkah kedua hewan beda spesies ini. Mereka bagaikan induk dan anak dari satu spesies yang sama.

Apa yang disantap Mzee juga disantap Owen, di mana Owen tidur di situ pasti ada Mzee. Mereka selalu bermain air di kolam bersama, makan bersama, tidur bersama dan berjalan-jalan keliling area taman bersama-sama pula.

Setahun berlalu, namun kedua hewan beda spesies itu semakin lengket. Keduanya sudah tak dapat terpisahkan lagi. Fenomena ini sungguh mengejutkan sejumlah besar ilmuwan. Bukannya saja karena peristiwa seperti ini belum pernah terjadi, tetapi di antara mereka juga sudah mengembangkan “bahasa” mereka sendiri sebagai system komunikasi di antara keduanya. Bahasa komunikasi lewat suara yang sama sekali belum pernah ditemukan dalam kelompok kuda nil atau pin kura-kura Adabran.

Suara dalam nada tertentu dari Mzee direspon Owen pula secara tepat. Begitu pula sebaliknya, suara dalam nada tertentu dari Owen direspon Mzee pula secara tepat. Selain itu, keduanya juga mengembangkan bahasa tubuh yang hanya mereka berdua yang dapat memahami, seperti gigitan lembut, sentuhan, dorongan dan belaian yang masing-masinng direspon sebagai suatu kode untuk melakukan sesuatu atau ungkapan kasih saying diantara keduanya.

Keunikan persahabatan Owen dan Mzee pun menjadi lambing cinta dan persahabatan yang tidak mengenal batasan fisik, ras, spesies dan teritori.

Sungguh sangat luar biasa dengan sedikit belajar mengenai Psikologi Hewan kita sudah banyak mendapatkan ilmu. Semestinya kita sebagai manusia semakin merunduk karena rasa malu yang semakain berat setelah tahu bahwa begitu banyak manfaat serta pelajaran yang bisa kita ambil dari kehidupan hewan. Hewan saja mampu saling menghargai satu sama lain walaupun berbeda spesies, mengapa kita sebagai manusia yang diberikan akal tidak dapat melakukan hal yang bisa dilakukan hewan. Kita sebagai manusia harus bisa belajar untuk lebih peka terhadap orang-orang di sekeliling kita.

http://www.umm.ac.id/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: